~ Fenomena Takut Menikah ~
Bismillaahirrahmaanirrahiim..
“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk
kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat
menundukkan pandangan dan lebih menjag
a
kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia
berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya”
(HR. Bukhori-Muslim)
Sahabat tentu sudah mengetahui syarat
wajib untuk menikah, syarat sah untuk menikah sampai hukum-hukum
menikah. Atau meminta penjelasan dari guru-guru, ustadz maupun buku
agama yang terpercaya.
Yang Kita bahas adalah Fenomena Penghalang
menikah yang Utama yang dirasakan akhwah fillah dan ikhwah fillah di
zaman sekarang. Faktor tersebut :
1. Internal
=>> Sibuk Menilai diri Pribadi
Faktor Pribadi, dalam Islam semua tergantung niat, niat berhubungan
dengan dir secara zahir maupun batin. Sehingga banyak sekali kendala
yang terjadi di kalangan kaum remaja yang merasa minder, kurang Percaya
diri, atau jelasnya sibuk menilai-nilai diri pribadi. Mau menikah saja
berfikir lama padahal sudah mampu, ini adalah intuisi manusia, sugesti
manusia yang terlalu sibuk menerka-nerka dan berprasangka. Padahal
menikah adalah ibadah, jika telah cocok dan yakin maka tunggu apalagi?
=>> Masalah Karier
“Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian
diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan
rezeki, dan menambah keluhuran mereka” (Al Hadits)
"Belum
bekerja, Belum mampu jadi pengusaha jangan menikah, mau makan apa istri
dan anak-anakmu?". Hal seperti ini tidak aneh di telinga kita, banyak
yang mementingkan karier, syukur-syukur melaksanakan karier yang tidak
melupakan ketaatan kepada Allah. Tetapi Hal itu jarang kita temukan,
fakta di lapangan kebanyakan adalah yang melanggar, mau berkarier tetapi
melupakan ketaatan kepada Allah. Malah Berzina, bermaksiat dengan dalil
belum siap menikah. Nah disini Ikhwah dan akhwah di jatuhkan dua
pilihan.
Pertama>> Silahkan menikah, kemudian berusaha mengais rezeki dari mulai titik nol daripada terjerumus pada jurang zina.
Kedua>> Silahkan tidak menikah, kemudian terus berkarier hingga siap tetapi jangan pernah dekati zina.
“Janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk” (Al-Isra 32
2. Eksternal
Inilah yang kebanyakan membuat kaum muda-mudi Muslim banyak yang mengundurkan niatnya,
=>> Orangtua
“Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau senangi agama dan
akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan putrimu). Jika kamu tidak
menerima (lamaran)-nya niscaya terjadi malapetaka di bumi dan kerusakan
yang luas” (H.R. At-Turmidzi)
Tidak dipungkiri zaman sekarang
sangat bergantung pada kekuatan materi, sehingga banyak orangtua yang
mengatur anaknya dengan dalih "Ingin yang terbaik" sehingga tidak
sedikit zaman sekarang banyak anak-anak yang lebih condong ke jalur
berzina karena orangtua mereka lebih mementingkan materi. Betapa
hebatnya Umat Islam yang pemikirannya tersulap oleh materi, kami tahu
jika uang adalah hal pokok finansial yang sangat penting. Janganlah
menjadi orangtua yang buta terhadap agama dan membiarkan anak memasuki
jurang zina karena belum cukup finansial, atau dalih dengan nama proses
jelasnya adalah "PACARAN", jangan menjadi orangtua yang
menghalang-halangi anak untuk berumah tangga, Ingatlah peringatan
Allah yang sangat pedih terhadap tanggung jawab sebagai orangtua yang
lebih rela anaknya mendekati zina dibandingkan menikah. Rezeki sudah ada
yang mengatur, jika kita ditakdirkan Allah menjadi orang kaya maka
tidak dapat direbut oleh oranglain haqnya meskipun dikatakan kita
menikah dengan awal yang pas-pasan, sedangkan jika takdir Allah berkata
kita mempunyai rezeki hanya secukupnya/miskin menikah dengan
konglomerat, anak pejabat, kita akan tetap berjalur pada takdir-Nya.
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan
orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan
hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN
MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya)
dan Maha Mengetahui.” (An Nuur 32)
Maka dari itu, berdo'alah, mintalah kepada-Nya yang terbaik untuk urusan dunia dan akhirat kita. Aamiin
=>> Sibuk menilai-nilai pasangan
Sholeh tidak ya? Baik tidak ya? Bisa tajwid tidak ya? Pinter tidak ya? Ngajinya Ok tidak ya? cantik tidak ya? Tampan tidak ya?
Memang diharuskan memilih pasangan yang lebih baik agamanya, tetapi
nilailah lebih dahulu diri pribadi kita, sudahkah kita lebih dahulu
mensholehkan diri kita?
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk
laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita
yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki
yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik
(pula)” (An-Nur 26)
Kalau sudah maka jika telah cocok dalam
masalah agamanya nikahilah, timbulnya rasa ragu terhadap pasangan karena
syetan, kita terlalu cepat menilai seseorang itu karena satu kesalahan
yang terburu-buru, padahal Manusia adalah tempatnya salah dan khilaf dan
tidak ada manusia yang sempurna suci lahir dan bathinnya terkecuali
mereka yang telah berlaku zuhud, wara dan menundukkan pandangannya.
=>> Berkurangnya wanita sholehah
“Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan
maharnya” (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih)
"Tidak ada alasan mengenai pelaku zina dan perbuatannya untuk di sanksikan dosa dan hukumnya".
Jika Salah katakan tidak perlu menghujjah yang hukum yang kuat dengan
dalil lain "Tuhan kami sesungguhnya Engkaulah yang Maha Benar telah
diperintahkan kepada kami untuk tidak sekali-kali mendekati zina tetapi
kamilah yang telah berlaku zalim terhadap diri kami dan kami tiada
mengembalikan alasan terhadap perilaku kami dengan mengatas namakan
dalil-dalil-Mu, Sesungguhnya Engkau-lah Maha Pengampun atas dosa kami."
Harus menjadi Perhatian kita bersama, Tokoh agama maupun pemerintah
untuk memperbaiki kesalahan sistem, bukan menyebar-nyebarkan ikaln
kondom. Astaghfirullah. Ini adalah hal yang harus segera dilakukan
pengkajian ulang agar umat Islam terhindar dari perilaku yang semakin
jauh dari agama.