♥ Salam Ukhuwah Islamiyah ♥

♥ Salam Ukhuwah Islamiyah ♥♥ Salam Ukhuwah Islamiyah ♥♥ Salam Ukhuwah Islamiyah ♥♥ Salam Ukhuwah Islamiyah ♥

Kamis, 07 Maret 2013

KISAH RAJA JA'LUT dan RAJA THALUT


Problema keimanan sering dikaitkan dengan pemikiran dari individu tersebut, dimana apabila pemikiran individu itu cenderung untuk melanggar maka keimanan pun akan menurun sedangkan apabila pemikiran individu tersebut cenderung kepada ketaatan maka keimanan pun akan bertambah. Seperti kisah yang terjadi pada Bani Israil, kecenderungan kepada pelanggaran membuat mereka terlempar jauh dari kebenaran dan ajaran agama yang haq. Peristiwa yang di simpan di dalam Al-Quran mengenai kisah Raja Thalut melawan Raja Ja’lut merupakan bukti akan kebenaran isi Al-Quran yang terjadi kepada Bani Israil sebagai bentuk teguran bagi umat Islam agar senantiasa taat kepada Allah SWT. Selain itu, kisah tersebut memotivasi para pejuang Islam agar tidak ragu dalam melawan kafir yang zalim dimana Allah SWT akan selalu bersama mukmin dan menolong mereka ketika berperang sampai mendapatkan kemenganan meskipun Allah SWT mencoba keimanan mereka sehingga nyatalah mereka sebagai mukmin sejati. Itulah salah satu bukti yang Allah berikan melalui wahyu yang disampaikan kepada Rasulullah SAW, dimana sejarah membuktikan ketika perang badar pun dapat dimenangkan mukmin meskipun mereka berjumlah sedikit tetapi dengan keteguhan iman yang kuat mukmin mendapatkan kemenangan dan Islam berjaya serta di segani olem kaum kafir. Kemenangan Mukmin tidak terlepas dari perjuangan para Nabi dalam menegakkan agama dan tauhid. Mereka berjuang sehingga Allah memuliakan mereka sebagai salah satu utusanNya. Kezaliman Bani Israil akan terlihat dari kisah Raja Thalut, bagaimana mereka terus menantang Allah swt padahal sudah datang bukti yang jelas kepada mereka seperti kembali nya Tabut kepada mereka sendiri.
  
Wahb bin Munabbih berkata : “Dahulu Bani Israil ketika ditinggal oleh Nabi Musa as, masih mengikuti ajaran beliau. Akan tetapi beberapa masa kemudian mereka berubah sehingga ada yang kembali menyembah berhala, Allah swt mengutus beberapa Nabi untuk mengajak mereka kembali kepada tauhid dan ajaran agama namun mereka saat itu malah semakin menyeleweng terhadap ajaran agama. Sehingga Allah swt memberi mereka teguran yaitu di kuasakannya seorang Raja zalim yang bernama Ja’lut atas mereka. Tiada seorang pun yang mampu melawan kekejian yang dilakukan Raja Ja’lut.
            Dahulu mereka mempunyai Kitab Taurat dan Tabut tetapi karena mereka mengabaikan ajaran kitab tersebut makan Raja Ja’lut merampas dari tangan mereka. Sedangkan hanya sedikit diantara mereka yang menghafal isi dari kitab tersebut dan turunan Nabi dari Laawie pun telah habis kecuali seorang wanita yang hamil yang dibiarkan hidup. Wanita tersebut melahirkan keturunan laki-laki dan menjadi utusan Allah selanjutnya untuk berdakwah kepada manusia agar kembali pada Tauhid.
            Maka diangkatlah Thalut sebagai Raja untuk melawan Raja Ja’lut tetapi problematika keimanan pun terjadi yaitu beberapa tantangan Bani israil kepada Allah dan utusanNya sehingga sebagian diantara mereka merupakan orang yang merugi karena tidak taat pada perintah Allah. Hingga bukti kemenangan Thalut pada saat itu tidak mampu memberi mereka pemahaman akan kebenaran ajaran agama Allah sampai sekarang, semua bukti yang telah Allah swt berikan didustakan dan diingkari.
Dahulu Bani Israil ketika ditinggal oleh Nabi Musa a.s. masih masih mengikuti jejak ajaran Nabi Musa a.s. beberapa masa kemudian mereka berubah sehingga ada yang menyembah berhala dan selalu timbul (bangkit) seorang Nabi di tengah-tengah mereka yang tetap menganjurkan makruf dan mencegah dari mungkar, serta mengembalikan mereka ke tuntunan Taurat, sampai mereka memuncak penyelewengan mereka terhadap ajaran agama, sehingga Allah menguasakan di atas mereka musuh Islam yang telah membunuh dan menawan sebagian besar dari mereka anak serta menjajah negeri mereka, dan tiada seorang yang berusaha memberontak melawan kekuasaan-kekuasaan raja yang zalim itu melainkan segera ditumpas habis.
Dahulunya mereka memiliki kitab Taurat dan Tabut, tetapi karena mereka mengabaikan ajaran Taurat itu akhirnya Taurat dan Tabut itu dirampas oleh raja yang kafir, turunan Nabi telah habis dari turunan Laawie , kecuali seorang wanita yang sedang hamil , wanita itu sambil berdo’a semoga Allah memberinya putra yang akan menjadi seorang Nabi, maka Allah menerima do’anya dan wanita itu beranak lelaki yang diberi nama Samu’il atau Syam’un. Ketika telah mencapai usianya diturunkan wahyu kepadanya supaya berdakwah mengajak manusia kembali kepada Tauhid. Mereka kepadanya supaya diangkat seorang raja yang dapat meminpin untuk perang melawan raja yang zalim itu.
Dan berkatalah Nabi, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat untuk kalian Thalut sebagai raja “. Mereka berkata,”Bagaimana ia menjadi raja diatas kami, padahal kami lebih berhak daripadanya, dan ia tidak kaya”.


4
 Jawab Nabi,”Sesungguhnya Allah telah memilihnya diatas kalian , dan Allah telah memberinya kelebihan dari kalian dalam ilmu dan ketangkasan badan. Dan Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya , Dan Allah luas pemberiannya lagi mengetahui”.
Demikianlah contoh tantangan Bani Israil terhadap nabinya, kemudian Allah berfirman bahwa dia akan memberikan kekuasaan kerajaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Dan berkatalah Nabi ,” Sesungguhnya tanda bukti kerajaan Thalut itu akan kembalinya Tabut yang mengandung sakinah ketentraman dari Tuhan dan berisi sisa-sisa peninggalan keluaraga Musa dan Harun, ia ia dibawa oleh malaikat. Sungguh yang demikian itu sebagai bukti bagi kalian , jika kamu beriman”.
Sesungguhnya kejadian itu sebagai bukti kebenaran kenabian dalam apa yang aku jelaskan kepadamu mengenai kerajaan Thalut . Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Ayat ini memberitakan ketika raja Thalut keluar membawa tentaranya sebanyak delapan puluh ribu. Dan memberitakan bahwa Allah akan menguji dengan sungai diantara Ardun dan Palestina,
“Maka ketika Thalut telah membawa tentaranya keluar ,ia  berkata,”Sungguh Allah akan mengujimu dengan sebuah sungai, maka siapa yang minum dari sungai itu bukan golonganku , dan siapa yang tidak merasakan air itu dari golonganku, kecuali yang hanya menciduk dengan tangannya satu kali “. Maka minumlah dari singai kecuali sedikit yang tidak minum dari mereka. Dan ketika melewati tempat itu bersama orang-orang beriman kepadanya , mereka berkata ,”Kami tidak bertenaga untuk melawan jalut (Guliat) dan tentaranya sekarang ini “. Maka berkatalah orang yang yakin berhadapan dengan Allah : Berapa banyak rombongan yg kecil(sedikit) dapat mengalahkan yg banyak dengan izin Allah. Dan Allah tetap membantu orang yg sabar tabah hati”.

5
Al-bara’ bin Aazib r.a. berkata,” Kami biasa membicarakan bahwa sahabat Nabi saw. Ketika perang badar tiga ratus tiga belas sebanyak sahabat yg ikut menyebrangi sungai, dan tiada menyebran bersamanya kecuali orang mukmin .  ( R. Bukhari ). Keadaan kaum yg beriman menghadapi musuh dari orang kafir tentara jalut yang merupakan bilangan yg jauh lebih banyak, maka pertama yg harus di ingat oleh orang mukmin ialah : “Rabbana afrigh alaina shabra, wa tsabbit aqdaa mana wanshurna alal kaumil kaafirin; “Ya tuhan kami berilah kesabaran dan ketabahan kepada kami , dan tetapkan tepak kaki kami dalam menghadapi musuh, yakni jangan sampai kami lari ketakutan dan tolonglah kami , menangkan kami terhadap kaum yg kafir ”. Doa ini harus selalu menjadi senjata yang ampuh bagi tiap mukmin dalam perjuangan nyam, hanya dengan ingat kepada Allah itu lah yang dapat mencapai kemenangan dalam perjuangan.
           Dalam riwayat I srailiyat : bahwa Nabi Daud telah membunuh jalut dengan ketefil, yg di lemparkan kepada jalut sehingga terbunuh, dan Raja Thalut telah berjanji siapa yang dapat membunuh Raja Jalut akan dinikahkan dengan putrinya dan diberi setengah dari kerajaannya, kemudian setelah Nabi Daud menduduki kerajaan, Allah swt menambah dengan kenabian. Inilah ayat-ayat (Allah) kami ceritakan kepadamu sebenarnya, dan engkau termasuk Nabi Utusan Allah.
            “Rasul-Rasul itu telah kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain, diantara mereka ada yang langsung berkata-kata dengan Allah, dan mengangkat sebagian mereka beberapa derajat, dan kami telah memberi kepada isa putra Maryam bukti-bukti (Mukzijat) dan kami kuatkan ia dengan ruh suci. Dan andaikan Allah berkehendak niscaya tidak akan berperang orang-orang yang sesudah para Rasul itu setelah mereka menerima keterangan dan bukti-bukti, tetapi mereka lalu berselisih, maka diantara mereka ada yang beriman (percaya) dan ada juga yang kafir (ingkar), dan andaikan Allah berkehendak pasti mereka takkan berperang tetapi Allah berbuat sekehendakNya.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar